Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puing Jadi Bukit: Menciptakan "Ribwah" Subur di Lahan Gersang dengan Teknik Hugelkultur



Pernahkah Anda melihat tumpukan kayu lapuk, ranting pohon tumbang, atau sisa-sisa kusen tak terpakai di halaman rumah kosong?

Naluri manusia modern biasanya ingin segera "membersihkan" pemandangan itu. Pilihannya dua: dibuang ke TPA atau dibakar. Padahal, bagi seorang petani aset sakinah, tumpukan sampah kayu itu adalah Harta Karun.

Di artikel sebelumnya, kita membahas Revolusi Lahan Tidur. Langkah pertamanya adalah mengubah puing menjadi bukit. Dalam bahasa pertanian permakultur, ini disebut Hugelkultur. Dalam bahasa Al-Quran, kita sedang berikhtiar menciptakan sebuah Ribwah.

Apa Itu Hugelkultur?

Hugelkultur (dibaca: hoo-gul-culture) adalah teknik kuno dari Jerman yang berarti "Kultur Bukit". Prinsipnya sederhana: Menanam di atas tumpukan kayu yang ditimbun tanah.

Bayangkan sebuah spon raksasa. Kayu-kayu lapuk yang kita kubur di dalam tanah akan menyerap air saat hujan, menyimpannya, dan melepaskannya perlahan saat kemarau.

Ketika kayu itu membusuk, dia melepaskan nutrisi (nitrogen, fosfor, kalium) secara perlahan selama bertahun-tahun. Ini adalah Tabungan Biologis. Anda bekerja keras sekali di awal, lalu "makan gajinya" bertahun-tahun tanpa perlu menyiram dan memupuk sekeras tanah datar biasa.

Filosofi Ribwah: Kebun di Dataran Tinggi

Kenapa harus dibuat menggunung atau berbukit? Bukankah lebih mudah rata?

Di sinilah letak kesesuaian teknik ini dengan isyarat Al-Quran. Allah SWT berfirman tentang perumpamaan kebun yang ideal:

"Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi (Ribwah) yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat..."

(QS. Al-Baqarah: 265)

Para ahli tafsir dan ahli tani sepakat, tanah yang agak meninggi (Ribwah) memiliki keunggulan:

  1. Drainase Sempurna: Akar tanaman tidak akan busuk terendam air karena gravitasi menarik air ke bawah.

  2. Sirkulasi Udara: Akar mendapat oksigen lebih baik (aerasi).

  3. Paparan Matahari: Permukaan tanah yang melengkung menangkap sinar matahari lebih luas daripada tanah datar.

Dengan Hugelkultur, kita meniru desain Ribwah ini di lahan sempit perkotaan.

Sunatullah: Dari Kematian Menuju Kehidupan

Menerapkan Hugelkultur adalah wujud kepatuhan kita pada Sunatullah (Hukum Alam). Di hutan, tidak ada tukang sapu yang membakar daun atau menyingkirkan pohon tumbang.

Pohon mati akan jatuh, dimakan rayap dan jamur, lalu menjadi tanah humus yang menyuburkan pohon kecil di sekitarnya. Kematian satu makhluk menjadi kehidupan bagi makhluk lain.

Jika kita membakar sampah kayu, kita memutus rantai Sunatullah ini. Kita mengirim karbon ke langit (polusi) dan menyisakan abu yang miskin nutrisi. Tapi jika kita menimbunnya, kita sedang membangun "Bank Makanan" untuk tanaman kita.

Cara Membuat Bukit Hugelkultur (Versi Lahan Sempit)

Tidak perlu alat berat. Anda bisa memulainya di pojok halaman rumah kosong:

  1. Kumpulkan Bahan Kasar: Cari batang kayu besar, kayu lapuk, atau ranting tebal. Tumpuk di paling bawah sebagai fondasi.

    • Catatan: Hindari kayu olahan (triplek/kayu cat) yang mengandung bahan kimia. Gunakan kayu alami.

  2. Lapisan Kedua: Tumpuk ranting yang lebih kecil, dedaunan kering, atau potongan rumput di atas kayu tadi.

  3. Padatkan: Injak-injak agar tumpukan padat.

  4. Tutup dengan Tanah: Timbun seluruh tumpukan kayu itu dengan tanah galian atau tanah kebun setebal 10-20 cm.

  5. Bentuk Seperti Bukit: Pastikan bentuknya menggunung.

  6. Mulsa & Tanam: Tutup permukaan tanah dengan jerami/daun kering (mulsa) agar tidak erosi saat hujan, lalu mulai tanami dengan ubi jalar, jahe, atau sayuran.

Hasil Akhirnya?

Di tahun pertama, proses pelapukan akan menghangatkan tanah (bagus untuk perkecambahan).

Di tahun kedua dan seterusnya, saat tetangga Anda pusing menyiram tanaman di musim kemarau, "Bukit" Anda tetap lembap dan subur karena cadangan air di dalam batang kayu yang terkubur.

Lahan tidur Anda kini bukan lagi tempat sampah, melainkan sebuah Ribwah—bukit kecil yang siap menghasilkan panen berlipat ganda, Biidznillah.


Langkah Selanjutnya:

Tanah dan bukit sudah siap. Tapi bagaimana cara mempercepat kayu-kayu itu agar cepat terurai menjadi nutrisi? Kita butuh pasukan pengurai.

Di artikel berikutnya, kita akan membahas: "Sampah Jadi Emas Hitam: Cara Membuat Pasukan Mikroba (MOL) dari Nasi Basi."

Jangan lupa share artikel ini jika bermanfaat!

Posting Komentar untuk "Puing Jadi Bukit: Menciptakan "Ribwah" Subur di Lahan Gersang dengan Teknik Hugelkultur"

jasa web
🚀 Mau Punya "Aset Digital" Sendiri?
Sama seperti pertanian, bisnis di era digital butuh "lahan" yang subur.
Saya membantu UMKM dan Profesional membangun Website & Landing Page yang cepat, rapi, dan siap panen orderan.

"Jangan biarkan calon pembeli tersesat ke lapak kompetitor hanya karena Anda tidak ada di Google."
BACA LEBIH LANJUT ➝